Sebagian orang Indonesia percaya demokrasi. Sebagian besar lainnya menurut saja saat disuruh untuk medical check-up sebelum diterima kerja. Dan tentunya lebih banyak lagi yang percaya pada omongan seorang ibu. Tapi rasanya hanya sedikit yang percaya bahwa menunjukkan emosi sebenar-benarnya merupakan sesuatu nan bijak pada banyak kesempatan. Kebanyakan lebih percaya untuk sering menyembunyikan, bahkan mengelabui emosi diri sendiri. Alasannya adalah budaya timur dan sejenisnya.
Paragraf di atas didasarkan sepenuhnya pada penelitian Salovey, dkk (1995).
— Salovey, P., Mayer, J. D., Goldman, S. L., Turvey, C., & Palfai, T. P. (1995). Emotional attention, clarity, and repair: Exploring emotional intelligence using the Trait Meta-Mood Scale.
Lebih tepatnya dari kalimat pembuka mereka, yang menurut saya sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan sangat erat berhubungan dengan kenyataan bahwa kita sebagai orang timur begitu memikirkan perasaan orang lain, sampai-sampai harus menekan emosi sendiri di banyak momen kehidupan. Tapi di awal tulisan ini saya tidak bermaksud menganjurkan untuk selalu menguak emosi diri yang sebenarnya di setiap detik. Saya ingin menyentuh aspek yang lebih fundamental, yaitu tentang kesadaran emosional atau emotional awarenes.
Sejak bukunya Daniel Goleman yang berjudul Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ menjadi sangat terkenal di medio 1990-an, kita semua begitu percaya pada arti dari judul buku tersebut. Buktinya pun bertebaran di depan mata. Saya mungkin adalah salah satunya. Betapa teman-teman sekolah yang dulu rankingnya di bawah saya, sekarang kesuksesan dalam hidupnya jauh melebihi saya. Dulu saya diagung-agungkan karena prestasi akademis sepanjang enam tahun saat SD. Sampai sekarang pun masih banyak yang bilang bahwa otak saya encer. Tapi kalau mengukur dari materi saja, mereka-mereka yang jelas-jelas daya tangkapnya dalam hal akademis jauh di bawah saya ternyata uangnya lebih banyak, hartanya lebih berlimpah, dan semua ukuran-ukuran material lainnya jelas-jelas mengalahkan saya. Saya tahu persis apa penyebabnya. Bahwa, selain tidak punya privilege kekayaan sejak lahir, yang paling utama adalah saya terlambat menjadi dewasa secara emosional. Sementara orang lain yang sama-sama tidak punya trust fund tapi lebih sukses dari saya memiliki kecerdasan emosional yang sudah dipupuk sejak mereka belia. Di tulisan-tulisan saya yang berikutnya akan terungkap detail-detail ketidakdewasaan emosional saya itu. Akan terkuak secara subtil.
Sekarang mari kita lihat definisi dari kecerdasan emosional itu sendiri, atau yang lebih sering disebut sebagai EQ, yaitu kapasitas untuk menyadari, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi-emosi, juga melakukan navigasi terhadap hubungan interpersonal menggunakan judgment yang baik dan empati. Individu dengan kecerdasan emosional yang tinggi dipastikan memiliki kompetensi-kompetensi kunci.
Dan pondasi dari kecerdasan emosional adalah kompetensi self-awareness. Lebih dalam lagi, elemen pertama dari kompetensi self-awareness adalah emotional awareness (Serrat, 2017).
Menyelami Arti Emotional Awareness
Menurut Salovey, dkk (1995), ada tiga faktor yang dapat diukur, menggunakan semacam psikometrik hasil penelitian mereka, untuk menilai tingkat emotional awareness seseorang; ketiga faktor tersebut adalah: perhatian pada emosi (attention to feelings), kejelasan emosional (clarity of feelings), dan pemulihan emosional (mood repair). Tidak usah khawatir dengan kompleksitas istilah-istilahnya. Tapi kita perlu tahu bahwa Peter Salovey, John Mayer, dan David Caruso mengembangkan MSCEIT (Mayer-Salovey-Caruso Emotional Intelligence Test), salah satu alat asesmen kecerdasan emosional yang paling banyak dipakai selain ECI (Emotional Competence Inventory), EQ-i 2.0 (Emotional Quotient Inventory) yang dikembangkan oleh Bar-On (& Parker, 2000), serta Genos Emotional Intelligence Inventory. Seseorang dapat mengikuti tes kecerdasan emosional yang mana saja, tapi sekarang kita akan memulai pendalaman emotional awareness berbasis tiga-faktornya Salovey, Mayer, Goldman, Turvey, dan Palfai, menggunakan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
- Perhatian Pada Emosi (attention to feelings)
Mungkin kita tidak sengaja mengabaikan emosi diri, tetapi karena terlalu sering, lama-lama kita tidak mampu mengenali dampaknya. Kita menjadi orang yang mengadopsi mindset “abaikan perasaanmu”, dan percaya bahwa emosi itu tidak berarti, bahkan merugikan.
Seorang wanita budak korporasi yang super sibuk sering sekali mengatakan, “Saya tidak terlalu memperhatikan perasaan saya.” Setiap hari ia kelihatan terburu-buru, baginya tugas dan tanggung jawab profesi adalah prioritas utama. Ia jarang sekali berhenti sejenak untuk merenungkan keadaan emosinya. Tanpa disadari olehnya, sikap acuh-tak-acuh terhadap emosi tersebut lama-lama menumpuk, menyebabkan stres dan kelelahan. Dan parahnya adalah, ia tidak akan menyadari akar permasalahan dari stres dan lelahnya itu.
Contoh berikutnya adalah seorang pria, sebut saja namanya Asep. Ia dengan tegas meyakini bahwa seseorang seharusnya tidak membiarkan emosi menjadi pemandu dalam kehidupan ini. Ia teguh pada rasionalitas dan logika, menganggap emosi sebagai penghambat dalam pengambilan keputusan. Dalam hubungan interpersonal, ia selalu menekan perasaannya dan berpikir bahwa emosi cenderung mengaburkan penilaian. Namun Asep tidak menyadari bahwa dengan mengabaikan emosi sepenuhnya seperti itu, berarti ia mengabaikan wawasan berharga yang dapat diberikan oleh emosi – ia jadi tidak mengenal empati dan tidak mampu membina hubungan yang baik dengan banyak orang.
Saya pun serupa. Dulu saya sering berpikir bahwa perasaan adalah kelemahan yang dimiliki oleh manusia. Saya selalu mengaitkan kerentanan emosional dengan kerapuhan dan memandang itu sebagai kelemahan. Alhasil, saya mengadopsi sifat stoik, dan menekan emosi sebanyak mungkin. Tapi dengan melakukan itu semua, ternyata saya menolak peluang untuk memiliki self-awareness dan growth, dan saya sering tidak paham akan kebutuhan dan keinginan diri sendiri.
Ada lagi contoh yang lain, kali ini dari seorang teman wanita yang perfeksionis. Setiap kali berhasil melakukan atau mendapatkan sesuatu, ia selalu mengingatkan diri akan kemungkinan terjadinya masalah. Ia begitu takut akan kegagalan dan kekecewaan. Saat ditanya mengapa ia selalu seperti itu, jawabannya adalah, “Saya merasa penting untuk mengabaikan perasaan-perasaan tertentu, supaya saya tetap waras!” Dan karena terus-menerus memikirkan kemungkinan negatif, itu tanpa sengaja mengurangi kemampuan untuk sepenuhnya menikmati dan menghargai pengalaman-pengalaman positif.
Situasi-situasi di atas walaupun terasa cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi belum mencakup keseluruhan dari kecerdasan emosional. Yang perlu dicatat adalah bahwa emosi menyimpan informasi berharga yang membantu individu dalam menjalani hubungan, membuat keputusan, dan mencapai well-being secara keseluruhan. Mengenali dan memahami emosi dapat mengarah pada peningkatan self-awareness, empati, dan interaksi yang lebih sehat dengan orang lain. Dan berikut ini adalah beberapa contoh yang menggambarkan bagaimana seseorang memperhatikan emosi serta mengakui perasaan yang dialaminya.
Seorang wanita muda yang optimis dan sering melakukan refleksi menyatakan bahwa ketika merasa bahagia, ia meluangkan waktu sejenak untuk merenung dan menyadari betapa bodohnya kekhawatiran yang selama ini sering ia rasakan. Ia terus-menerus memperhatikan mood-nya, percaya bahwa self-awareness adalah kunci untuk menjaga keseimbangan emosional. Dengan lonjakan energi yang menyertai kebahagiaannya, ia melakukan pendekatan pada kehidupan dengan pandangan optimis, percaya pada kekuatan pikiran positif dan bertindak dari hati. Ia sangat memperhatikan bagaimana perasaannya, menggunakan emosi sebagai kompas dalam menghadapi pengalaman sehari-hari.
Contoh berikutnya memiliki perbedaan yang cukup mendasar tetapi tetap memegang teguh konsep emotional awareness yang tinggi. Ia seorang pria yang senang melakukan observasi terhadap diri dan lingkungannya menggunakan rasionalitas. Ia meyakini bahwa merasakan emosi apapun yang muncul dalam dirinya adalah hal yang sehat, tetapi ia melakukan pendekatan pada emosi dengan rasa keterpisahan (detachment) dan analisis. Ketika bahagia, ia mengevaluasi alasan di balik suasana hati yang positif itu, dengan hati-hati mempertimbangkan faktor-faktor yang berkontribusi pada well-being-nya. Ia percaya pada bertindak berdasarkan logika daripada hanya dipengaruhi oleh emosi. Ia juga sering memikirkan perasaannya, namun dengan sudut pandang yang analitis.
Lain lagi dengan seorang teman wanita yang bekerja sebagai manajer di bidang sumber daya manusia. Ia menyebut dirinya seorang pencinta yang penuh gairah. Baginya, cara terbaik untuk menghadapi perasaan adalah dengan mengalami sepenuhnya. Ketika dalam suasana hati yang baik, ia larut dalam kegembiraan dan energi positif, seolah-olah memeluk momen di-sini-kini. Ia menjalani hidup secara otentik dan bertindak dari hati, membiarkan emosi memandu tindakannya. Ia memperhatikan perasaannya dan menghargai kedalaman pengalaman emosional, menemukan kepuasan dalam merangkul sepenuhnya rentang emosi yang ditawarkan oleh kehidupan.
Contoh yang terakhir adalah seorang pria emosional. Ia meyakini bahwa perasaan memberikan arah dalam hidupnya. Ketika merasa bahagia, ia mengarahkan energi ke usaha-usaha yang produktif, membiarkan optimisme tentang masa depan memandu tindakannya. Ia sering memikirkan perasaannya dan sangat memperhatikan bagaimana mood-nya dalam berbagai situasi. Ia menghargai kecerdasan emosional dan menggunakannya sebagai kompas untuk menjalani hubungan dan membuat keputusan, memahami pentingnya emosi dalam mencapai well-being secara keseluruhan.
Dari gambaran umum di atas, sekarang kita bisa melihat bahwa setiap individu memiliki pendekatan yang berbeda-beda terhadap emosi. Ada yang optimis dan reflektif, mengamati secara rasional, penuh cinta dan gairah, serta melakukan navigasi yang emosional. Apapun gayanya, perhatian pada emosi memiliki keuntungan yang bisa meningkatkan well-being seseorang.
- Kejelasan Emosional (clarity of feelings)
Dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang memiliki kejelasan tentang perasaannya, ia dapat dengan mudah mengenali dan mengungkapkan emosi. Ia merasa tenang dan nyaman dalam memahami perasaan sendiri. Bahkan dalam situasi seperti merasa sedih, energi yang dimiliki tetap tinggi. Keanekaragaman perasaan juga dipandang sebagai aspek yang menarik dan memberikan kekayaan pada pengalaman hidupnya. Dan berikutnya mari kita lihat beberapa contoh karakter bercerita tentang diri mereka yang menggambarkan konsep kejelasan emosional ini.
Seorang wanita yang bekerja sebagai coach di bidang kecerdasan emosional, mengekspresikan diri bahwa ia biasanya sangat jelas tentang perasaan sendiri. Ia memiliki kemampuan yang baik dalam mengenali dan mengidentifikasi emosi yang dirasakan. Jarang sekali ia merasa bingung tentang bagaimana ia sebenarnya merasa. Kejelasan ini memberinya kepercayaan diri dalam menghadapi situasi yang kompleks, karena ia dapat dengan mudah mengungkapkan dan mengelola emosi. Tentunya wajar jika seseorang sepertinya merasa seperti itu, Bahkan saya menjulukinya sang emotion clarity expert.
Sekarang kita melihat ke contoh lain, seorang pria yang oleh saya dijuluki sebagai energetic motivator. Situasi sedih seringkali memberikan energi tambahan baginya. Ia merasa bahwa ketika sedih, energi dalam dirinya tetap tinggi. Meskipun suasana hati sedang tidak menyenangkan, tetapi ia tetap bisa melibatkan diri dalam aktivitas sehari-hari dengan semangat. Ia melihat kekuatan ini sebagai cara untuk terus maju meskipun di tengah-tengah emosi negatif.
Contoh terakhir adalah seorang penulis wanita. Ia sungguh merasa bahwa keanekaragaman perasaan manusia menjadikan hidup lebih menarik. Ia percaya bahwa setiap perasaan memberikan kekayaan dan dimensi yang unik pada setiap aspek kehidupan. Ia senang memperhatikan dan merasakan berbagai macam emosi, karena ini memberinya pengalaman hidup yang lebih dalam dan memperkaya perspektif terhadap dunia. Dan oleh karena itu, saya menjulukinya sang emotional diversity appreciator.
Dalam menceritakan tentang diri mereka sendiri, contoh pertama menggambarkan kejelasan emosi yang dimilikinya, contoh kedua menyoroti energi yang dimilikinya dalam situasi sedih, dan contoh terakhir menikmati keanekaragaman perasaan sebagai sesuatu yang menarik dalam kehidupan. Sekali lagi, setiap karakter ini memiliki pengalaman unik dan pandangan yang berbeda tentang emosi dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Namun, ada beberapa alasan mengapa seseorang kadang-kadang tidak memiliki kejelasan tentang perasaan mereka. Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ketidakjelasan emosi seseorang:
- Ketidaktahuan tentang emosi: Beberapa orang mungkin tidak terbiasa atau kurang terlatih dalam mengenali dan mengidentifikasi emosi mereka. Mereka mungkin tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang berbagai jenis emosi dan bagaimana cara mengartikannya. Kurangnya pemahaman ini bisa membuat mereka kesulitan dalam mengklasifikasikan dan mengungkapkan perasaan mereka dengan jelas.
- Pengalaman trauma atau stres: Pengalaman traumatis atau tingkat stres yang tinggi dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk merasakan dan mengenali emosi mereka. Dalam situasi seperti itu, perasaan bisa menjadi terdistorsi atau tumpang tindih, dan individu mungkin merasa kesulitan dalam membedakan emosi yang sebenarnya. Pengalaman traumatis juga dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk mengakses atau mengidentifikasi emosi tertentu sebagai mekanisme perlindungan.
- Penghambatan emosi: Beberapa orang mungkin telah mengembangkan pola perilaku atau keyakinan yang menghambat ekspresi emosional. Mereka mungkin telah diajari untuk menekan atau menutupi emosi mereka, mungkin karena lingkungan di mana mereka tumbuh atau kepercayaan budaya yang melekat pada kontrol emosi. Akibatnya, mereka mungkin tidak terbiasa dalam mengenali atau mengungkapkan emosi mereka secara jujur, yang menyebabkan ketidakjelasan.
- Ketidakseimbangan atau gangguan kesehatan mental: Gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan bipolar dapat mempengaruhi persepsi dan pengalaman emosi seseorang. Ketidakseimbangan kimia dalam otak atau perubahan pola pikir yang terjadi dalam gangguan tersebut dapat menyebabkan ketidakjelasan emosi. Seseorang mungkin mengalami fluktuasi atau perubahan perasaan yang sulit dipahami atau dijelaskan.
- Konteks kehidupan yang kompleks: Kehidupan sehari-hari yang kompleks, seperti hubungan antar pribadi yang rumit, tekanan pekerjaan, atau konflik internal, dapat membuat seseorang bingung tentang perasaan mereka. Tuntutan dan stres yang tinggi dapat mempengaruhi keterhubungan dengan emosi dan mengaburkan kejelasan perasaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat banyak contoh yang menggambarkan bagaimana seseorang menghadapi situasi ketidakjelasan emosional, sehingga mereka merasa sedih atau depresi. Saat saya sedang menulis bagian ini, seorang teman lama meminta untuk berjumpa beberapa kali untuk curhat tentang hidupnya. Luar biasa sekali, karena dari satu orang saja tapi bertemu beberapa kali, saya mendapatkan pola yang cukup mewakili ketidakjelasan emosional. Kalau boleh saya merangkum perkataannya di setiap kesempatan bertemu, berikut adalah urutannya:
- Pertemuan Pertama. Ketika saya sedang depresi, sulit bagi saya untuk tidak terus memikirkan hal-hal buruk. Pikiran-pikiran negatif merajai pikiran saya dan saya merasa terjebak dalam lingkaran pikiran yang tidak sehat. Energi saya biasanya sangat rendah ketika bersedih, dan bahkan melakukan tugas-tugas sehari-hari menjadi tantangan yang sangat berat.
- Pertemuan Kedua. Seringkali saya merasa sulit untuk mengetahui bagaimana saya sebenarnya merasa. Perasaan-perasaan saya bisa berubah-ubah, dan kadang-kadang saya tidak dapat menentukan dengan pasti apa yang saya rasakan. Hal ini membuat saya bingung dan sulit untuk mengidentifikasi dan memahami emosi yang sedang saya alami.
- Pertemuan Ketiga. Terkadang, perasaan-perasaan saya begitu rumit sehingga sulit bagi saya untuk menguraikan dan memahaminya. Saya merasa kebingungan tentang bagaimana sebenarnya perasaan saya dan sulit untuk membuat arti dari emosi yang saya alami. Hal ini menyebabkan kebingungan yang lebih besar dan membuat saya merasa tidak terhubung dengan diri sendiri.
- Pertemuan Keempat. Perasaan sedih atau depresi juga dapat mempengaruhi pandangan dan opini saya terhadap suatu hal. Saya menyadari bahwa keyakinan dan pendapat saya sering berubah-ubah tergantung pada perasaan saya saat itu. Saya merasa terjebak dalam suasana hati yang negatif, dan hal ini mempengaruhi cara saya menafsirkan dan merespons situasi di sekitar saya.
Kesimpulannya, sang sahabat lama menghadapi tantangan dalam memahami, mengidentifikasi, dan mengatasi emosi negatif seperti kesedihan dan depresi. Ia merasa terjebak dalam pikiran yang buruk, memiliki energi yang rendah, dan mengalami kesulitan dalam memahami dan membuat arti dari perasaan yang dialami. (Ceritakan situasi sebenarnya dari orang tersebut, Ted!).
Dalam situasi seperti di atas, dukungan dan bantuan dari orang-orang terdekat atau profesional kesehatan mental dapat membantu dalam memahami dan mengelola emosi dengan lebih baik.
- Pemulihan Emosional (mood repair)
Untuk bagian ini, saya ingin secara spesifik bertanya kepada pembaca: “Apakah sifat realistis dan selalu bersandar pada kehati-hatian membuat seseorang sudah pasti baik dalam hal emotional awareness?” Pertanyaan ini didasarkan pada kenyataan yang sangat menarik, bahwa pada contoh-contoh sebelumnya, terutama di bagian perhatian pada emosi, kita mendapatkan contoh positif dari kedua sifat tersebut. Bagaimana halnya ketika seseorang dengan sifat-sifat tersebut perlu melakukan mood repair saat sedang gundah gulana? Mari kita telusuri jawabannya dari dua contoh di bawah ini.
Yang pertama adalah seorang wanita yang realistis. Setiap kali ia dalam suasana hati yang buruk, ia cenderung pesimis tentang masa depan. Ia melihat segala sesuatu dengan warna yang gelap dan sulit melihat harapan di tengah kegelapan. Namun, ketika ia merasa terlalu bahagia, ia mengingatkan dirinya tentang realitas hidup untuk menyeimbangkan diri. Ia sadar bahwa terlalu terbuai dalam kebahagiaan bisa membuatnya kehilangan pemahaman tentang realitas yang ada.
Yang kedua adalah seorang pria yang hati-hati. Ketika hatinya terluka dan merasa terganggu, ia mulai melihat segala sesuatu yang baik dalam hidup sebagai ilusi semu. Ia menyadari bahwa kebahagiaan itu sementara dan akan berlalu, kemudian realitas pahit segera mengambil alih. Meskipun ia kadang-kadang merasakan kebahagiaan, pandangan hidupnya sebagian besar tetap pesimis. Ia mengandalkan sikap hati-hati dalam memperbaiki mood-nya; ia tidak membiarkan harapan berlebihan menghancurkan keyakinannya itu.
Lagi-lagi, setiap orang berbeda dalam mengelola emotional awareness mereka, begitu juga pada bagian mood repair ini. Si wanita realistis mempertahankan realisme dalam menghadapi suasana hati yang negatif dan mencoba menyeimbangkan diri antara optimisme dan pesimisme. Sementara itu, si laki-laki bersikap hati-hati dan mengingatkan diri sendiri tentang realitas yang ada saat ia merasa terlalu bahagia. Kedua karakter ini memiliki pandangan hidup yang lebih cenderung pesimis, tetapi mereka menggunakan strategi yang berbeda untuk memperbaiki mood mereka. Pertanyaan berikutnya adalah, adakah strategi mood repair yang lebih baik daripada mereka? Jawabannya akan saya kembalikan ke pemahaman pembaca masing-masing. Tetapi tentunya melalui contoh-contoh berikut.
Yang pertama adalah seorang wanita optimis nan bijak. Meskipun ia kadang-kadang merasa sedih, pandangan hidupnya sebagian besar tetap optimis. Tidak peduli seberapa buruk perasaannya, ia mencoba untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan. Ketika merasa terganggu, ia mengingatkan diri sendiri akan segala kenikmatan dalam hidup. Ia berusaha untuk selalu memikirkan hal-hal baik, tak peduli seberapa buruk perasaannya. Jika merasa marah, ia mencoba untuk menenangkan diri sendiri dan mengendalikan emosi tersebut.
Lalu yang kedua adalah seorang pria yang legowo. Ia tidak pernah khawatir saat berada dalam suasana hati yang terlalu baik. Ia tahu bahwa suasana hati yang positif adalah sesuatu yang penting untuk dinikmati. Ketika merasa senang, ia mungkin tidak memiliki energi yang terlalu banyak. Namun, ia berusaha untuk menghargai momen-momen kebahagiaan itu dengan membiarkan diri terhanyut dalam kesenangan tanpa kekhawatiran. Dan ketika marah, ia cenderung membiarkan dirinya merasakan emosi tersebut dengan jujur, tetapi juga berusaha mengelolanya dengan cara yang sehat.
Singkatnya, si wanita menggunakan teknik pemikiran positif dan mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang menyenangkan untuk mengatasi rasa sedih atau ketidaknyamanan. Sementara itu, si pria menerima emosi dengan terbuka dan memahami pentingnya menikmati suasana hati yang baik tanpa kekhawatiran berlebihan. Kita bisa menyimpulkan bahwa kedua karakter ini menggunakan pendekatan yang sehat dalam memperbaiki suasana hati mereka.
Begitulah tiga faktor yang dapat diukur untuk menilai tingkat emotional awareness seseorang berdasarkan Salovey, dkk (1995). Penelitian mereka memang menekankan bahwa ada hubungan antara emotional awareness dengan kecerdasan emosional seseorang secara umum. Tapi saya mengartikannya sedikit berbeda, bahwa emotional awareness adalah kunci pembuka menuju alam kecerdasan emosional. Jika seseorang ingin mulai mendalami emotional intelligence, maka hal pertama yang perlu dikuasai olehnya adalah emotional awareness ini (Serrat, 2017). Bar-On dan Parker (2000) juga serupa, mereka menyiratkan bahwa emotional awareness merupakan salah satu aspek penting dari kecerdasan emosional. Penelitian lain yang mendukung hal ini adalah Zeidner, Roberts, dan Matthews (2008) yang mengumpulkan konsensus dan kontroversi terkait kecerdasan emosional; mereka membahas pentingnya kesadaran emosional dalam hubungan sosial dan kualitas hidup seseorang. Satu lagi adalah Brackett, Rivers, Shiffman, Lerner, dan Salovey (2006) yang membandingkan pengukuran kecerdasan emosional berdasarkan laporan diri dan pengukuran kinerja; hasil penelitian mereka menunjukkan adanya hubungan antara emotional awareness dan fungsi sosial.
Membuka Pintu Menuju Kecerdasan Emosional
Dan membuka tentunya perlu menggunakan kunci. Teman saya selalu menuliskannya dengan koentji untuk memberikan penekanan pada kata tersebut. Kesimpulan dari tulisan ini adalah, bahwa jika seseorang ingin mulai mendalami kecerdasan emosional (emotional intelligence atau EQ), maka kuncinya adalah kombinasi dari hal-hal berikut (Serrat, 2017):
- Ia tahu emosi apa yang dirasakan dan mengapa;
- Ia menyadari hubungan antara perasaan dan apa yang dipikirkan, dilakukan, dan dikatakan;
- Ia mengenali bagaimana perasaan mempengaruhi kinerja; dan
- Ia memiliki kesadaran yang dijadikan panduan dalam bentuk nilai-nilai dan tujuan diri sendiri.
Tidak peduli seseorang berasal dari budaya apa (timur, barat, utara, selatan), jika ia melatih diri untuk membangun keempat hal di atas, maka sifat bijak dalam dirinya akan berbentuk mengetahui kapan perlu menguak emosi yang sebenarnya, kapan perlu menyembunyikannya, dan tidak akan sekalipun mengelabui emosi diri sendiri.
Referensi:
Bar-On, R., & Parker, J. D. (2000). The Bar-On Emotional Quotient Inventory: Youth Version (EQ-i: YV). Technical Manual. Multi-Health Systems.
Brackett, M. A., Rivers, S. E., Shiffman, S., Lerner, N., & Salovey, P. (2006). Relating emotional abilities to social functioning: A comparison of self-report and performance measures of emotional intelligence. Journal of Personality and Social Psychology, 91(4), 780-795. [DOI: 10.1037/0022-3514.91.4.780]
Goleman, Daniel. (2007). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. 10th ed. New York, NY: Bantam Books.
Salovey, P., Mayer, J. D., Goldman, S. L., Turvey, C., & Palfai, T. P. (1995). Emotional attention, clarity, and repair: Exploring emotional intelligence using the Trait Meta-Mood Scale. Dalam J. W. Pennebaker (Ed.), Emotion, Disclosure, and Health (pp. 125-154). American Psychological Association. [DOI: 10.1037/10182-005]
Serrat, O. (2017). Understanding and Developing Emotional Intelligence. 10.1007/978-981-10-0983-9_37. Zeidner, M., Roberts, R. D., & Matthews, G. (2008). The science of emotional intelligence: Current consensus and controversies. European Psychologist, 13(1), 64-78. [DOI: 10.1027/1016-9040.13.1.64]


