Eksplorasi Accurate Self-Assessment Untuk Mencari Jati Diri

Cover Accurate Self Assessment 1

Sejak zaman dahulu, mengetahui tentang diri sendiri selalu merupakan sesuatu yang tidak mudah. Mungkin itulah yang menyebabkan accurate self-assessment ditempatkan di urutan kedua sebagai pondasi dari kecerdasan emosional. Saya di masa kecil pernah terjebak dalam situasi self-assessment yang tidak akurat, cenderung memiliki sifat narsis berlebihan yang menyebabkan saya berpikir bahwa saya istimewa. Padahal jika dipikir-pikir sekarang, saya di masa kecil adalah manusia biasa-biasa saja yang kebetulan punya sedikit kelebihan. Tapi saya senang sekali jadi pusat perhatian, apalagi saat saya yang masih sekolah dasar sering mengalahkan orang dewasa dalam hal matematika. Selama enam tahun saya merasa bahwa saya hebat karena hampir semua orang yang saya temui berkata demikian. Hasilnya? Ketika masuk sekolah menengah pertama saya kaget dan stres, karena ternyata saya bukan satu-satunya anak pintar di Cimahi.

Puluhan tahun berselang, dan sekarang saya masih saja dihadapkan pada kesulitan serupa dalam hal mengetahui nilai saya yang sebenarnya.

Kali ini sumbernya bukan hanya dari diri sendiri, tetapi juga dari melihat dan membaca apa yang terjadi pada orang lain di sekitar. Saat saya sedang menulis ini, seseorang yang tidak terlalu saya kenal memposting sesuatu di LinkedIn. Isinya menceritakan seolah-olah perjalanannya sebagai pebisnis sangat mencerahkan, bahwa ia mendapatkan begitu banyak pelajaran berharga dari sepak terjangnya yang terkesan sangat hebat. Kemudian beberapa orang mengomentari postingan tersebut. Komentar pertama mengingatkan si pemilik akun supaya jangan kebanyakan bicara, tetapi ia sebenarnya perlu pembuktian yang selama ini tidak pernah ada. Komentar berikutnya mirip, mengingatkannya untuk lebih sering berefleksi agar apa yang diucapkan tidak sekedar narasi. Setelah saya telusuri, rupaya kedua penulis komentar itu pernah mengalami dikecewakan olehnya. Keduanya pernah diberikan kesan bahwa si pemilik akun memiliki potensi bisnis yang baik, tetapi ternyata ia tidak bisa melakukan apapun dengan benar. Kenapa saya bisa menyimpulkan seperti itu, padahal saya hanya mendapat kabar dari sumber tidak langsung? Karena sebenarnya si pemilik akun baru-baru ini telah saya minta untuk tidak berbisnis dengan saya lagi. Waktu itu saya melakukannya melalui pesan di WhatsApp. Menurut saya, ia sudah menyalahi aturan bisnis yang sopan dan beretika. Karena perilakunya, saya dan dua sahabat saya hampir saja berseteru. Apa yang ia lakukan berpotensi memecah-belah persahabatan kami, bahkan cenderung mencoreng nama salah satu sahabat di mata calon klien.

Cukup gibahnya. Tidak baik, kata teman saya yang bekerja sebagai manajer operasional di sebuah restoran cukup mewah di daerah Senopati, Jakarta. Ia adalah seseorang yang pada dasarnya cukup religius. Dan walaupun saya tidak, tetapi saya banyak berkaca dari beliau. Obrolan-obrolan dengannya lah yang memampukan saya sekarang untuk mengatakan bahwa si pemilik akun di LinkedIn (yang saya jelaskan di atas) sebenarnya memiliki kemiripan dengan saya yang dahulu. Saya dulu sering berpikir terlalu besar tentang diri saya, tanpa bukti-bukti yang cukup nyata. Sampai sekarang pun benih-benih itu masih tersisa walaupun berbentuk remah-remah yang mulai bisa dikendalikan. Rupanya sifat narsis tidak semudah itu hilang dari dalam diri ini. Maka dari itu, sekarang saya ingin mengeksplor perihal narsisme terlebih dahulu sebelum masuk ke inti tentang accurate self-assessment.

Menengok (Bukan Menyelami) Narsisme

Accurate self-assessment dapat terhambat oleh beberapa tantangan seperti self-deceptionfear of judgment, dan bias-bias kognitif. Ames, Rose, dan Anderson (2006) memperkenalkan pentingnya penilaian diri yang akurat dalam mengukur narsisme, serta menyoroti perlunya mengatasi bias dalam persepsi diri. Menurut mereka, dengan memupuk kesadaran diri dan menyadari tantangan-tantangan tersebut, kita dapat mengatasinya dengan lebih efektif. Dan sejak membaca jurnal penelitian mereka, saya berusaha menggali lebih dalam lagi tentang narsisme, dan menemukan beberapa hal seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

Narsisme eksis dalam bentuk spektrum, mulai dari tingkat yang sehat hingga tidak sehat. Pada tingkat yang sehat, narsisme dapat berkontribusi pada self-esteem yang positif, kepercayaan diri, dan ketegasan atau assertiveness. Narsisme yang sehat berarti mempertahankan rasa self-worth yang layak, rasa bangga atas pencapaian diri, dan memelihara batasan diri (boundaries) serta sebentuk self-care. Narsisme yang sehat memungkinkan kita untuk memiliki pandangan yang seimbang dan realistis tentang diri sendiri sambil tetap mempertimbangkan kebutuhan dan perasaan orang lain.

Namun, ketika narsisme menjadi berlebihan dan memasuki ranah yang tidak sehat, itu dapat berdampak negatif pada hubungan, personal well-being, dan fungsi diri secara keseluruhan. Narsisme yang tidak sehat ditandai dengan perasaan mementingkan diri sendiri secara berlebihan, kebutuhan yang terus-menerus akan pengakuan dan pengaguman, kurangnya empati terhadap orang lain, dan kecenderungan mengeksploitasi atau memanipulasi orang lain untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Penting untuk diperhatikan bahwa istilah “narsisme” sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk menggambarkan seseorang yang self-centered atau egois. Namun sebenarnya secara klinis, istilah yang tepat adalah Narcissistic Personality Disorder (NPD), sebuah gangguan, sebuah kondisi kesehatan mental yang spesifik dan melibatkan pola perilaku tertentu yang cukup luas dan ekstrem. Jadi, sebenarnya kita tidak bisa sembarangan melakukan semacam self-diagnose, misalnya menyebut teman yang kita tidak suka sebagai narsis karena menunjukkan perilaku-perilaku tertentu. Hanya spesialis kejiwaan yang boleh membuat kesimpulan seperti itu. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah hanya belajar sedikit tentang narsisme tanpa membuat kesimpulan apapun. Untuk itu saya akan mencoba mengurai isi penelitian yang saya sebutkan sebelumnya ke dalam contoh-contoh di empat situasi: social gathering, tempat kerja, hubungan personal, dan online presence, secara berurutan. 

Untuk contoh pertama, anggaplah ada seseorang bernama Joni. Ia adalah sosok yang mencolok dalam pesta-pesta, secara aktif selalu mencari perhatian dan berusaha memastikan semua orang mendengarkan ceritanya. Ia senang menjadi pusat perhatian dan mengharapkan pengaguman dari orang lain. Ia dengan mudah memanipulasi percakapan agar selalu diarahkan ke “tentang dirinya sendiri”, memastikan bahwa orang-orang mengakui otoritasnya dan menganggapnya sebagai orang yang istimewa dan luar biasa. Rasanya, menurut observasi saya sendiri, sosok seperti ini cukup familiar karena selalu ada di lingkungan banyak pertemanan hampir semua orang.

Di lingkungan kerja, kita semua mungkin pernah menemui sosok berikutnya. Anggaplah namanya Sarah. Ia secara konsisten mencari posisi yang memiliki otoritas dan kekuasaan. Ia senang memiliki kendali atas orang lain dan mengharapkan semua orang mengakui kemampuannya. Sarah bersikeras untuk menerima rasa hormat yang ia yakini pantas diterimanya dan mengharapkan banyak dari rekan-rekannya. Ia percaya diri dengan kemampuannya dan menggunakan keterampilan manipulatifnya untuk membuat orang lain mempercayai apa yang ia ingin orang lain percaya.

Yang berikutnya ada di ranah hubungan personal. Saya ingin bercerita tentang seorang laki-laki yang terus-menerus mengingatkan pasangan dan teman-temannya tentang kualitas dan pencapaian uniknya. Ia percaya bahwa ia lebih mampu dibandingkan orang lain dan mengharapkan pengakuan dan pengaguman secara terus-menerus. Ia senang menjadi pusat perhatian dalam interaksi sosial, mendominasi percakapan dengan cerita yang menunjukkan pencapaiannya. Yang ia cari adalah situasi di mana orang lain mengakui otoritasnya dan meningkatkan statusnya.

Dan yang terakhir ini pasti membuat kita semua senyum-senyum sendiri. Entah mungkin karena sebagian sifatnya telah melekat di dalam diri hampir semua orang yang menggunakan media sosial, atau melihat orang-orang dekat yang mirip. Ya, kali ini kita akan mengambil contoh dalam hal online presence. Di sini kita tidak perlu menyebut jender. Cukup sebut saja “seseorang”. Ia menciptakan online persona yang memancarkan keagungan dan superioritas. Ia dengan hati-hati menyusun postingan dan interaksi untuk menunjukkan dirinya sebagai individu yang luar biasa. Kehadiran online-nya diarahkan untuk mendapatkan perhatian, pengaguman, dan validasi dari orang lain. Ia secara aktif memanipulasi audiens online-nya untuk mempercayai dan memandangnya dengan cara tertentu, ia juga mahir membuat orang mempercayai apa pun yang ia ingin orang lain percaya.

Situasi-situasi di atas ada di kehidupan sehari-hari, menggambarkan individu-individu yang mengekspresikan berbagai kecenderungan narsistik, termasuk mencari perhatian, menginginkan otoritas atas orang lain, memanipulasi orang, dan mengharapkan pengaguman dan pengakuan. Setiap orang tentunya berada di posisi spektrum yang berbeda-beda jika menggunakan ukuran empat situasi di atas. Dan untuk menyeimbangkan pembelajaran kita, mari kita melanjutkan dengan menelaah situasi-situasi yang bertentangan dengan narsisme.

Yang pertama, tentang menerima pujian, berada di kerumunan, dan manipulasi. Kita akan mengambil contoh seorang karyawan wanita di kota metropolitan. Sebutlah namanya Lisa. Ketika seseorang memberikan pujian kepadanya, ia kadang merasa malu. Ia lebih suka menyatu dengan orang lain dalam kerumunan. Ia merasa bahwa ia tidak lebih baik atau buruk dari kebanyakan orang lain. Lisa tidak keberatan untuk mengikuti perintah atau instruksi dari orang lain. Ia tidak suka saat menemukan dirinya sedang memanipulasi orang lain dan berusaha untuk menghindarinya.

Selanjutnya tentang hubungan secara umum. Karakter kita bernama Paul. Ia menghargai rasa hormat yang diterima dari orang lain dan percaya bahwa ia memperolehnya dengan sikap dan tindakan yang pantas. Namun, ia tidak ingin tampil berlebihan atau mencoba menonjol. Paul lebih suka bertindak dengan rendah hati dan menunjukkan sikap yang merendahkan diri. Ia percaya bahwa ada banyak hal yang dapat dipelajari dari orang lain dan menghargai kontribusi yang dapat diberikan oleh setiap individu.

Yang terakhir adalah seseorang bernama Sari yang berada di lingkungan kantor. Ketika menangani tugas di tempat kerja, Sari tidak terlalu fokus pada memperoleh kekuasaan atau menjadi pusat perhatian. Ia merasa nyaman mengikuti perintah dan bekerja secara kolaboratif dengan rekan-rekan timnya. Sari juga menghindari sikap pamer dan berusaha untuk tidak menonjolkan diri ketika mendapat kesempatan. Baginya, menjadi otoritas bukanlah prioritas utama.

Dalam ketiga contoh terakhir, karakter-karakter seperti Lisa, Paul, dan Sari menunjukkan kecenderungan yang bertentangan dengan narsisme. Mereka cenderung merasa malu saat mendapat pujian, menghargai kontribusi orang lain, dan lebih suka menyatu dengan orang lain daripada menonjol. Mereka mengutamakan kerendahan hati, bekerja sama, dan sikap menghormati orang lain. Ini memberikan perbandingan yang menarik dengan contoh-contoh sebelumnya yang menggambarkan sifat narsistik.

Dari pembelajaran singkat barusan, saya mencoba membuat kategori untuk membantu pembaca melakukan refleksi terhadap aspek-aspek narsisme. Namun sekali lagi perlu diingat bahwa narsisme ada dalam bentuk spektrum, dan kategori-kategori yang saya buat bukan berarti bahwa keberadaan indikator-indikatornya dalam diri seseorang sudah pasti menunjukkan tingkat narsisme yang sesungguhnya. Mari kita mulai mengeksplorasi melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif di setiap kategorinya. 

  1. Grandiosity (Merasa Besar)

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya pernah mengalami perasaan grandiose saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Untuk menyelidiki keberadaan indikator narsisme ini dalam diri, berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang baik untuk dijadikan refleksi: (a) Apakah saya tahu bahwa saya hebat karena orang-orang sering mengatakan demikian? (b) Apakah saya merasa bahwa saya adalah pribadi istimewa yang unggul? (c) Apakah saya berpikir saya adalah pribadi yang istimewa? 

  1. Attention-Seeking (Mencari Perhatian)

Apakah anda suka menjadi pusat perhatian di setiap kesempatan, seperti Joni? Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan reflektif yang mengindikasikan keberadaan kadar narsisme di dalam diri, dari kategori “mencari perhatian”: (a) Apakah saya senang memiliki kewenangan atas orang lain? (b) Apakah saya bersikeras mendapatkan penghormatan yang pantas bagi saya? (c) Apakah saya cenderung memamerkan diri saat mendapat kesempatan? (d) Apakah saya selalu tahu apa yang saya lakukan? (e) Apakah saya benar-benar suka menjadi perhatian? (f) Apakah saya adalah pribadi yang luar biasa?

  1. Self-Doubt & Insecurity (Meragukan Diri & Perasaan Tidak Aman)

Indikator narsisme bisa juga muncul karena adanya keraguan diri dan perasaan tidak aman. Mungkin ini yang akhirnya mewujud menjadi self-deception atau fear of judgment yang tadi sempat saya sebut. Apapun itu, berikut adalah beberapa pertanyaan reflektif untuk mendeteksi indikator ini: (a) Apakah saya merasa akan menjadi orang yang besar? (b) Apakah saya merasa lebih mampu dari orang lain? 

  1. Manipulation (Manipulasi)

Masih ingat sosok Sarah yang cenderung suka menggunakan keterampilan manipulatifnya? Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan ke diri sendiri untuk mendeteksi indikator ini: (a) Apakah saya merasa mudah dalam memanipulasi orang lain? (b) Apakah saya bisa membuat siapapun percaya sesuai dengan yang saya inginkan? Atau justru sebaliknya: (c) Apakah saya merasa tidak suka ketika menemukan diri ini sedang memanipulasi orang lain?

Semua pertanyaan reflektif tadi bisa mencolek hati sebagai peringatan hati-hati jika sebagian besar dijawab dengan “Ya”. Kecuali pertanyaan yang terakhir, justru sebaliknya. Dan berikut ini saya akan melanjutkan dengan cara mengenali negasi dari narsisme menggunakan cara yang sama. Kali ini mencerminkan karakter Lisa, Paul, dan Sari. Yang perlu diperhatikan adalah cara semua pertanyaan diekspresikan dalam kalimat-kalimat yang saya tuliskan. Pemilihan semua kata dalam pertanyaan-pertanyaan tersebut memang disengaja untuk kepentingan akurasi dalam muatan emosionalnya.

  1. Empathy & Interpersonal Relationship (Empati & Hubungan Antar-Personal)

Pada kategori yang baik ini, pertanyaan reflektifnya cukup banyak, yaitu: (a) Apakah saya tidak keberatan mengikuti perintah dari atasan atau teman-teman? (b) Apakah saya berusaha untuk tidak terlihat sombong? (c) Apakah kadang-kadang saya tidak yakin tentang apa yang sedang saya lakukan? (d) Apakah rasanya tidak nyaman bagi saya untuk menjadi pusat perhatian? (e) Apakah menjadi otoritas tidak terlalu penting bagi saya? (f) Apakah orang kadang-kadang mempercayai apa yang saya katakan? (g) Apakah ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari orang lain? (h) Apakah saya sama seperti kebanyakan orang lain?

  1. Humility & Self-Awareness (Rendah Hati & Kesadaran Diri)

Dan ini adalah kategori indikator baik yang terakhir. Beberapa pertanyaan reflektifnya adalah sebagai berikut: (a) Apakah ketika orang memberi saya pujian, kadang-kadang saya merasa malu? (b) Apakah saya lebih memilih menyatu dengan kerumunan daripada menonjol? (c) Apakah saya merasa bahwa saya tidak lebih baik atau lebih buruk daripada kebanyakan orang? (d) Apakah biasanya saya mendapatkan penghormatan yang saya rasa pantas bagi saya? (e) Apakah kadang-kadang saya bercerita dengan baik? (f) Apakah saya suka melakukan hal-hal untuk orang lain? (g) Apakah saya berharap saya akan berhasil?

Demikianlah sekilas tentang narsisme, sengaja dipaparkan di awal pembahasan supaya navigasi kita dalam aspek self-assessment memiliki pijakan yang kuat. Di bagian akhir nanti, saya akan menyentuhnya lagi sebagai pengingat. Sekarang mari kita mulai perjalanan memahami accurate self-assessment.

Menelusuri Accurate Self-Assessment

Self-assessment memainkan peran penting dalam pertumbuhan pribadi dan penemuan diri. Memahami diri sendiri, termasuk kekuatan, kelemahan, dan kualitas pribadi, sangat penting untuk menghadapi tantangan hidup dan membuat keputusan yang tepat. Accurate self-assessment, menurut banyak hasil penelitian, memiliki makna yang lebih dari sekadar introspeksi. Ia sejatinya melibatkan eksplorasi diri seseorang secara mendalam dan jujur, yang mengarah pada kesadaran diri dan pengembangan pribadi yang lebih besar.

Self-assessment berfungsi sebagai kompas, membimbing kita dalam perjalanan penemuan diri. Hal ini memungkinkan kita memperoleh kejelasan tentang nilai-nilai, hasrat, dan aspirasi kita. Penelitian yang dilakukan Judge dan Bono (2001) menyoroti korelasi antara accurate self-assessment dengan kepuasan kerja, kinerja, dan kesejahteraan secara keseluruhan. Meta-analisis mereka mengungkapkan bahwa individu dengan accurate self-assessment, termasuk self-esteemself-efficacylocus of control, dan stabilitas emosional, cenderung mengalami kepuasan kerja yang lebih tinggi dan berkinerja lebih baik dalam peran mereka. Mari kita lihat contoh-contoh yang bisa kita temui di kehidupan sehari-hari.

Contoh pertama adalah pada saat penilaian kinerja di kantor. Seseorang bernama Sinta secara akurat menilai kekuatan dan kelemahannya berdasarkan pengalaman diri sepanjang tahun. Ia melakukan perenungan terhadap proyek-proyek yang sudah ia kerjakan sebelumnya, mengakui bidang-bidang di mana ia unggul dan bidang-bidang yang memerlukan perbaikan. Ketika manajernya memberikan masukan, Sinta mendengarkan dengan penuh perhatian, secara terbuka menerima kritik yang membangun dan mempertimbangkan perspektif baru untuk meningkatkan kinerjanya.

Contoh berikutnya adalah tentang membuat jurnal untuk pertumbuhan pribadi. Setiap malam, Tom menghabiskan waktu menulis jurnal tentang harinya dan merenungkan pengalamannya. Ia menulis tentang pencapaian, tantangan, dan emosinya, dengan tujuan untuk penilaian diri yang akurat. Tom terbuka untuk mengeksplorasi sudut pandang yang berbeda, sering kali mencatat wawasan yang diperoleh dari percakapan atau masukan yang diterima dari teman dan keluarga. Ia menghargai refleksi diri sebagai alat untuk pertumbuhan dan perkembangan pribadi.

Selanjutnya tentang seseorang bernama Maya. Saat menghadapi kesulitan dalam hubungan, Maya meminta nasihat dari teman yang dipercaya. Ia berbagi pengalamannya secara terbuka, memberikan penjelasan akurat tentang situasinya. Maya mendengarkan masukan temannya dengan penuh perhatian, mempertimbangkan berbagai perspektif dan solusi potensial. Meski terasa rentan, Maya menghargai masukan yang jujur ​​dan menggunakannya untuk mendapatkan wawasan tentang dinamika hubungannya.

Berikutnya adalah tentang menerima kritik yang membangun. Saat rapat tim, Alex mempresentasikan proyeknya kepada rekan-rekannya. Setelah itu, rekan satu timnya memberikan umpan balik yang jujur ​​mengenai hal-hal yang perlu ditingkatkan. Alex mendengarkan dengan penuh perhatian, mengakui keabsahan sudut pandang mereka. Ia mencatat saran-saran mereka, mengakui nilai dari sudut pandang yang beragam dalam menyempurnakan karyanya. Alex menunjukkan kerendahan hati dan keterbukaan terhadap kritik yang membangun, dan selalu membina lingkungan kolaboratif.

Contoh terakhir adalah mengenai kesehatan mental. Dalam sesi terapi, James melakukan refleksi diri dan penilaian diri yang akurat di bawah bimbingan terapisnya. Ia berbagi pengalaman dan tantangan pribadi, mengeksplorasi dampaknya terhadap kesejahteraan mentalnya. James menyambut masukan dan wawasan terapisnya, tetap terbuka terhadap perspektif dan strategi baru untuk mengatasi masalah ini. Melalui terapi, James memupuk kesadaran diri dan pertumbuhan yang lebih besar.

Kelima contoh barusan menggambarkan bagaimana individu mengekspresikan kualitas accurate self-assessment, refleksi atas pengalaman sendiri, keterbukaan terhadap umpan balik yang jujur, dan perspektif baru dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Kelima karakter kita menunjukkan pentingnya kualitas-kualitas ini dalam pengembangan pribadi dan profesional, mendorong pertumbuhan, dan hubungan yang bermakna.

Sampai titik ini, saya berharap pembaca mulai melihat bahwa accurate self-assessment mencakup beberapa komponen utama. Pertama, ia melibatkan kesadaran akan kekuatan dan kelemahan kita, mengakui kemampuan dan keterbatasan kita. Kuncel, Hezlett, dan Ones (2004) menemukan bahwa accurate self-assessment memprediksi kinerja akademik, potensi karir, kreativitas, dan kinerja di kantor. Berefleksi akan pengalaman, seperti yang disoroti oleh Thornton III dan Byham (1982), berkontribusi terhadap accurate self-assessment dan pengembangan karir yang efektif. Selain itu, sikap terbuka terhadap umpan balik yang jujur ​​dan perspektif baru, seperti yang dipelajari oleh Ames dan Flynn (2007), akan mendorong accurate self-assessment dan meningkatkan efektivitas kepemimpinan. Lalu, bagaimana strategi praktis yang bisa kita lakukan untuk mengembangkan accurate self-assessment?

Mengembangkan accurate self-assessment membutuhkan upaya dan latihan yang disengaja. Melakukan latihan refleksi diri, seperti membuat jurnal atau meditasi, dapat memperdalam kesadaran diri dan memfasilitasi penilaian diri. Mencari umpan balik dari individu terpercaya yang memberikan wawasan konstruktif, seperti yang dieksplorasi oleh London (2002), menawarkan perspektif yang berharga. Intinya, pembelajaran berkelanjutan melalui membaca dan mencari pengalaman baru pastinya meningkatkan kesadaran diri dan berkontribusi pada accurate self-assessment.

Mengabaikan Tantangan Accurate Self-Assessment

Accurate self-assessment dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis. Dunning, Heath, dan Suls (2004) membahas kelemahan penilaian diri yang salah, menekankan perlunya mengatasi bias dan kesalahan kognitif. Mereka menyoroti pentingnya melakukan accurate self-assessment dan dampaknya terhadap kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan.

Kalau kembali berkaca ke pengalaman saya, berdasarkan penelitian Dunning dan teman-temannya itu, manusia cenderung menilai dirinya lebih baik dibandingkan yang sebenarnya. Dan bukti personal telah menunjukkan bahwa jika hal ini tidak segera diperhatikan, maka kekecewaan dan dampak tidak baik lainnya akan mewujud di dalam kehidupan kita semua. Tapi untuk pemahaman pembaca yang lebih mendalam, berikut adalah beberapa contoh kehidupan nyata jika seseorang mengabaikan tantangan accurate self-assessment dan akibatnya di ranah kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan.

Pertama, dalam hal kesehatan. Contoh dari dua karakter berikut mungkin pernah dialami oleh kita semua, mengingat perihal kesehatan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang sedemikian personal sehingga bias-biasnya sangat sulit diruntuhkan, terlebih lagi jika ditambahkan faktor kepercayaan yang kurang terhadap dunia medis dibandingkan terhadap dunia klenik dan pseudosains. Contoh nomor satu sebutlah namanya Jon yang sering mengabaikan gejala-gejala di tubuhnya. Jon mengalami sakit kepala dan kelelahan yang terus-menerus tetapi memilih untuk mengabaikannya, dengan asumsi sakit kepala dan kelelahan tersebut akan hilang dengan sendirinya tanpa mencari nasihat medis. Ia gagal menilai kondisi kesehatannya secara akurat, sehingga berpotensi menunda diagnosis dan pengobatan masalah kesehatan yang mendasarinya. Contoh nomor dua sebutlah namanya Sasa yang gemar menghindari perawatan untuk pencegahan. Sasa mengabaikan pemeriksaan kesehatan rutin dan pemeriksaan pencegahan karena ia merasa sehat dan yakin ia tidak membutuhkannya. Ia gagal menilai status kesehatannya secara akurat, sehingga meningkatkan risiko kondisi medis yang tidak terdeteksi yang sebenarnya bisa dicegah atau diobati sejak dini.

Kedua, dalam hal pendidikan. Contoh pertama mirip dengan saya sewaktu kecil. Muis melebih-lebihkan kemampuan akademisnya dan berasumsi bahwa dia memahami materi dengan baik tanpa mencari klarifikasi atau masukan dari dosen atau teman sebaya. Ia gagal menilai pengetahuan dan pemahamannya secara akurat, sehingga menghambat pembelajaran dan kemajuan akademisnya. Contoh kedua adalah seseorang yang suka mengabaikan masukan orang lain. Emma menerima kritik yang membangun atas tugasnya tetapi menolaknya tanpa merenungkan kesalahannya atau mencari bimbingan untuk memperbaiki diri. Ia gagal menilai secara akurat kekuatan dan kelemahannya, sehingga kehilangan peluang untuk berkembang dan sukses secara akademis.

Yang terakhir, dalam hal pekerjaan. Contoh pertama adalah seorang karyawan pria. Tomi menghindari evaluasi kinerja di tempat kerja karena ia takut akan umpan balik negatif dan lebih memilih untuk mempertahankan citra diri yang positif. Ia gagal menilai kinerjanya secara akurat, sehingga membatasi potensinya untuk pertumbuhan dan pengembangan profesional. Contoh kedua adalah seorang karyawan wanita yang suka menyalahkan orang lain. Jesika terus-menerus menyalahkan faktor eksternal atau rekan kerja atas kesalahan dan kekurangannya di tempat kerja, menolak mengambil tanggung jawab atau mencari perbaikan diri. Ia gagal menilai secara akurat kontribusi dan bidang area untuk diperbaiki, sehingga menghambat kemajuan kariernya.

Dari keenam contoh di atas, akibat menghindari umpan balik, Jon dan Sasa akhirnya didiagnosa mengidap penyakit yang cukup mematikan. Akibat melebih-lebihkan kemampuan mereka, Muis dan Emma harus menempuh lebih banyak tahun untuk bisa lulus dengan nilai yang biasa saja. Dan akibat menolak mengakui kekurangan mereka, Tomi dan Jesika menjadi bagian dari orang-orang pertama yang diberhentikan saat perusahaan menghadapi krisis. Intinya, mengabaikan tantangan accurate self-assessment dapat menghambat pertumbuhan pribadi dan kesuksesan kita di berbagai bidang.

Mari Mentertawakan Diri Sendiri

Sambil menulis ini, saya seringkali merasa malu dengan diri saya yang dahulu. Tapi untuk meredakan emosi negatif yang bisa tercipta, saya akhirnya hanya bisa tertawa dalam hati. Betapa mengungkap jati diri melalui accurate self-assessment adalah perjalanan penemuan diri dan pertumbuhan pribadi yang berkelanjutan. Hal ini mencakup merangkul keaslian diri, mengeksplorasi hasrat, nilai, dan keyakinan kita, serta menyelaraskan tindakan dengan diri kita yang sebenarnya. Dengan memulai perjalanan ini, kita membuka potensi, menemukan kepuasan, dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan terarah.

Accurate self-assessment yang saya jabarkan di sini didukung oleh penelitian ilmiah, merupakan alat yang ampuh untuk penemuan diri dan pengembangan pribadi. Dengan melakukan refleksi diri, mencari masukan, dan berkomitmen untuk terus belajar, kita dapat mengungkap jati diri kita dan menjalani hidup kita dengan keaslian dan tujuan. Mari kita memulai perjalanan penilaian diri yang akurat, menyingkap jati diri dan menerima diri seutuhnya. Karena individu dengan kompetensi accurate self-assessment sadar akan kelebihan dan kekurangannya; reflektif, belajar dari pengalaman; terbuka terhadap masukan yang jujur, perspektif baru, pembelajaran berkelanjutan, dan pengembangan diri; dan mampu menunjukkan rasa humor serta perspektif tentang diri mereka sendiri (Serrat, 2017).

Referensi:

Ames, D. R., & Flynn, F. J. (2007). What breaks a leader: The curvilinear relation between assertiveness and leadership. Journal of Personality and Social Psychology, 92(2), 307-324. [DOI: 10.1037/0022-3514.92.2.307]

Ames, D. R., Rose, P., & Anderson, C. P. (2006). The NPI-16 as a short measure of narcissism. Journal of Research in Personality, 40(4), 440-450. [DOI: 10.1016/j.jrp.2005.03.002]

Dunning, D., Heath, C., & Suls, J. M. (2004). Flawed self-assessment: Implications for health, education, and the workplace. Psychological Science in the Public Interest, 5(3), 69-106. [DOI: 10.1111/j.1529-1006.2004.00018.x]

Judge, T. A., & Bono, J. E. (2001). Relationship of core self-evaluations traits—self-esteem, generalized self-efficacy, locus of control, and emotional stability—with job satisfaction and job performance: A meta-analysis. Journal of Applied Psychology, 86(1), 80-92. [DOI: 10.1037/0021-9010.86.1.80]

Kuncel, N. R., Hezlett, S. A., & Ones, D. S. (2004). Academic performance, career potential, creativity, and job performance: Can one construct predict them all? Journal of Personality and Social Psychology, 86(1), 148-161. [DOI: 10.1037/0022-3514.86.1.148]

London, M. (2002). Job feedback: Giving, seeking, and using feedback for performance improvement. Routledge.

Serrat, O. (2017). Understanding and Developing Emotional Intelligence. 10.1007/978-981-10-0983-9_37.

Thornton III, G. C., & Byham, W. C. (1982). Assessment centers and managerial performance. Academic Press.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca