Pandemi COVID-19 telah mengubah banyak hal, termasuk cara kita belajar dan bekerja. Pertemuan tatap muka beralih ke ruang virtual, dan pembelajaran daring melonjak popularitasnya. Akibatnya, muncul pertanyaan: apakah metode pembelajaran tradisional di kelas akan segera ditinggalkan?
Grafik terlampir menunjukkan tren menarik tentang modalitas pelatihan yang diharapkan di masa depan. Meskipun pembelajaran daring mengalami peningkatan signifikan, pelatihan tatap muka dengan instruktur (in-person instructor-led training) diprediksi tetap menjadi pilihan utama.
Sebelum COVID-19, hampir 70% pelatihan dilakukan secara tatap muka. Angka ini memang turun drastis di bawah 20% selama tahun 2021. Namun, grafik menunjukkan tren peningkatan yang stabil sejak saat itu.
Laporan Tren L&D 2025 dari Blanchard memprediksi bahwa persentase modalitas yang akan digunakan perusahaan selama tahun 2025 adalah sebagai berikut:
- Pelatihan tatap muka dengan instruktur: 42%
- Pembelajaran mandiri (self-paced learning): 30%
- Pelatihan daring dengan instruktur (virtual instructor-led training): 28%
Data ini menunjukkan bahwa pembelajaran di kelas masih memiliki tempat penting di masa depan. Interaksi langsung, diskusi tatap muka, dan dinamika kelompok tetap menawarkan keunggulan yang sulit digantikan oleh pembelajaran daring sepenuhnya.
Namun, pembelajaran hybrid yang mengkombinasikan metode tatap muka dan daring kemungkinan besar akan menjadi model yang dominan. Model ini memanfaatkan keunggulan kedua metode untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif dan menarik.
Kesimpulannya, mengajar di kelas tidak akan punah. Meskipun pembelajaran daring semakin populer, interaksi manusia dan dinamika kelas tetap memiliki nilai yang tak tergantikan. Masa depan pembelajaran ada pada model hybrid yang menawarkan fleksibilitas dan efektivitas.

